Kamis, 07 April 2016

10.000 HOURS

Hampir selama satu generasi lamanya, para psikolog di dunia terlibat dalam perdebatan yang hangat atas sebuah pertanyaan yang bisa diselesaikan bertahun-tahun yang lalu oleh orang awam seperti kita. Pertanyaannya adalah ini: apakah memang ada yang disebut sebagai bakat bawaan? Jawaban yang pasti adalah ya. Kesuksesan adalah bakat ditambah latihan. Masalahnya dengan pandangan ini adalah semakin dekat para psikolog menelaah karier mereka yang berbakat maka sepertinya semakin kecil peranan bakat bawaan dan semakin besar peranan latihan.

Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers membahas sebuah kaidah penting yang ia beri nama kaidah 10.000 jam. Kaidah ini mengatakan bahwa seseorang dapat menjadi ahli atau sukses dalam bidangnya jika ia setidaknya menghabiskan 10.000 jam pada bidang tersebut. Pada kurun 10.000 jam tersebut mereka dapat menemukan kesalahan, kelemahan, peluang, nilai-nilai yang kemudian menjadi modalnya untuk mencapai kesuksesan. Berikut ini adalah beberapa kisah para tokoh sukses menghabiskan 10.000 jam mereka sebelum mencapai kesuksesan di bidangnya masing-masing.

The Beatles—John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr—datang ke Amerika Serikat pada bulan Februari di tahun 1964, memulai invasi Inggris ke arena musik Amerika dan mengeluarkan lagu-lagu hits yang mengubah wajah musik pop dunia. Namun, sebelum mereka sampai pada hari tersebut, mereka telah menghabiskan 10.000 jam mereka pada kawah candradimuka yang berada di Hamburg, Jerman. Pete Best, pemain drum The Beatles pada saat itu mengatakan bahwa pada saat itu mereka bermain nonstop sampai setengah satu malam saat klub ditutup. Namun, permainan mereka kian membaik sehingga penonton dapat bertahan hingga pukul dua pagi.

Bila dijumlahkan mereka telah bermain sebayak 270 malam dalam waktu setengah tahun. Kemudian pada tahun 1964 mereka diperkirakan telah naik panggung sebanyak 1200 kali. Faktanya adalah mayoritas band pada hari ini tidak pernah melakukan pertunjukkan sebanyak 1200 kali dalam kariernya. Kawah candradimuka yang bernama Hamburg adalah satu hal yang membedakan The Beatles dari band lainnya.

Cerita berikutnya adalah tentang 10.000 jam yang dihabiskan Bill Gates sebelum menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Ayah Gates adalah seorang pengacara kaya di Seattle sehingga ia mampu memindahkan anaknya pada usia 13 tahun ke Lakeside, sebuah sekolah swasta yang mempunyai komputer. Pada tahun 1968, komputer adalah sesuatu yang menakjubkan dan seorang bocah 13 tahun telah membuat program komputer pada saat professor-profesor ilmu komputer belum tentu memiliki akses yang sama.

Saat ia duduk di kursi SMA, ia mendapatkan akses komputer di University of Washington secara cuma-cuma dari pukul tiga dini hari hingga pukul enam pagi. Ribuan jam yang ia habiskan di depan komputer baik di Lakeside maupun University of Washington menjadi kawah candradimuka baginya. Sehingga saat ia keluar dari Harvard University pada tahun keduanya, ia bukanlah mahasiswa bodoh yang tidak mampu lulus. Namun, ia adalah seorang yang telah berlatih nonstop selama tujuh tahun dan sudah jauh melewati batas minimum berlatih selama sepuluh ribu jam lamanya. Cerita ini sekaligus dapat menjadi jawaban atas apologi banyak orang yang drop-out dari bangku kuliah dengan mengatakan Bill Gates saja yang tidak lulus kuliah bisa menjadi orang terkaya di dunia. Pertanyaannya kemudian adalah sudahkah mereka menghabiskan 10.000 jam latihan pada bidang yang ia tekuni seperti halnya Bill Gates.

Dari berbagai cerita di atas, kita dapat mengambil hikmah tentang pentingnya kerja keras dan kesungguhan dalam mencapai kesuksesan. Mereka yang telah mencapai kesuksesan mereka masing-masing telah menghabiskan ribuan jam untuk berlatih dan mengembangkan kemampuan diri.

Rabu, 06 April 2016

PRODUKTIF VS KONSUMTIF

Konsumtif dan Produktif adalah 2 kata yang terlihat berlawanan dan memiliki konotasi yang berlawanan pula, konsumtif dianggap negatif sedangkan produktif dianggap positif. Coba kita pahami tentang makna dari 2 kata tersebut

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ahlihipnotis/benarkah-menaikkan-bbm-adalah-mengalihkan-konsumtif-menjadi-produktif_54f3d5de745513962b6c80aa
KONSUMTIF dan PRODUKTIF adalah dua kata yang berlawanan dan memiliki konotasi yang berlawanan pula, konsumtif dianggap negatif dan produktif dianggap positif. coba kita pahami dua makna tersebut.

Konsumtif dan Produktif adalah 2 kata yang terlihat berlawanan dan memiliki konotasi yang berlawanan pula, konsumtif dianggap negatif sedangkan produktif dianggap positif. Coba kita pahami tentang makna dari 2 kata tersebut ya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ahlihipnotis/benarkah-menaikkan-bbm-adalah-mengalihkan-konsumtif-menjadi-produktif_54f3d5de745513962b6c80aa
Konsumtif dan Produktif adalah 2 kata yang terlihat berlawanan dan memiliki konotasi yang berlawanan pula, konsumtif dianggap negatif sedangkan produktif dianggap positif. Coba kita pahami tentang makna dari 2 kata tersebut ya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ahlihipnotis/benarkah-menaikkan-bbm-adalah-mengalihkan-konsumtif-menjadi-produktif_54f3d5de745513962b6c80aa
Konsumtif adalah kata sifat, berasal dari kata dasar “konsumsi” maka dengan demikian kata konsumtif berarti sifat mengkonsumsi, memakai, menggunakan, menghabiskan sesuatu. Sementara produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah “banyak hasilnya”, atau bisa kita artikan “terus menerus menghasilkan”.

Contoh kecilnya yaitu jika Anda membeli suatu barang atau jasa yang nilai dan manfaatnya terasa sangat besar, kemudian nilai dari barang atau jasa tersebut bisa bertambah atau menciptakan nilai tambah dikemudian hari maka itu adalah utang produktif. Contohnya membeli rumah dengan kredit pemilikan rumah (KPR). Namun jika membeli sesuatu hanya untuk memenuhi keinginan dan bukan kebutuhan, apalagi demi menunjang gaya hidup, dan dengan utang tersebut tidak ada nilai tambahnya sama sekali bahkan cenderung membebani keuangan kita di masa depan, maka dapat dipastikan itu adalah jenis perilaku konsumtif yang harus dihindari.

Jadi dari penjelasan diatas kita dapat menilai sendiri perilaku mana yang lebih menguntungkan untuk kita dan perilaku mana yang ingin kita terapkan. Apakah kedepannya anda lebih berpikir untuk menjadi orang dengan Tipe Konsumtif yang lama-kelamaan mungkin saja bisa membawa anda pada kegagalan finansial atau malah menjadi seorang usahawan dengan Tipe Produktif yang dapat menambah investasi kehidupan anda kedepannya?

Sabtu, 19 Maret 2016

Dongeng Motivasi: Melihat Yang Tidak Ada

 

dongeng motivasi 

Dongeng motivasi ini menceritakan seorang anak yang kehilangan uang sebesar Rp 10.000. Dia begitu sedihnya dan menangis sejadi-jadinya.
Paman anak tersebut merasa kasihan, kemudian dia menghampiri anak itu.
“Kenapa kamu menangis?” tanya pamannya dengan penuh kasih sayang.
“Uang saya hilang. Rp 10.000.” katanya sambil terisak-isak.
“Tenang saja, nich paman ganti yah… paman kasih Rp 10.000 buat kamu. Jangan menangis yah!” kata pamannya sambil menyerahkan selembar uang Rp 10.000. Namun, sia anak tetap saja menangis. Kenapa?
“Kenapa kamu masih menangis saja? Kan sudah diganti?” tanya pamannya.
“Kalau tidak hilang… uang saya sekarang Rp 20.000.” kata anak itu dan terus menangis.
Pamannya bingung…
“Terserah kamu saja dech….”, katanya sambil pergi.
Ayahnya yang baru pulang kantor mendapati anaknya masih menangis.
“Kenapa sayang? Koq menangis sich. Lihat mata kamu, sudah bengkak begitu. Nangis dari tadi yah?” tanyanya sambi menyeka air mata anaknya.
“Uang saya hilang Rp 10.000.” kata anaknya mengadu.
“Ooohhh. Lho itu punya uang Rp 10.000? Katanya hilang?” tanya ayahnya yang heran karena dia melihat anaknya memegang uang Rp 10.000
“Ini dari paman…. uang saya hilang. Kalau tidak hilang saya punya Rp 20.000.” jawabnya sambil terus menangis.
“Sudahlah…. nih ayah ganti. Ayah ganti dengan uang yang lebih besar. Ayah kasih kamu Rp 20.000. Jangan menangis lagi yah!” kata ayahnya sambil menyerahkan selembar uang Rp 20.000.
Si anak menerima uang itu. Tetapi masih tetap saja menangis. Ayahnya heran, kemudian bertanya lagi.
“Kenapa masih menangis saja? Kan sudah diganti?”
“Kalau tidak hilang, uang saya Rp 50.000.”
Ayahnya hanya geleng-geleng kepala.
“Kalau gitu dikasih berapa pun, kamu akan nangis terus.” sambil mengendong anaknya.
***
Dongeng motivasi ini nyata? Tidak juga, ini hanya rekayasa. Dalam kenyataannya banyak orang yang memiliki sikap seperti anak tadi. Dia hanya melihat apa yang tidak ada, dia hanya melihat apa yang kurang, tanpa melihat sebenarnya dia sudah memiliki banyak hal. Sifat manusia yang selalu merasa kurang padahal nikmat Allah begitu banyaknya sudah dia terima.
Banyak orang mengeluh tidak bisa bisnis, sebab dia tidak punya uang untuk modal. Padahal modal hanyalah salah satu yang diperlukan dalam bisnis. Bisa jadi dia sudah punya waktu, punya tenaga, dan punya ilmu untuk bisnis. Namun dia tidak juga bertindak sebab dia hanya fokus melihat kekurangan, bukannya bertindak dengan memanfaatkan apa yang ada. Mulailah Bertindak Dari Yang Sudah Ada.