Hampir selama satu generasi lamanya, para psikolog di dunia terlibat
dalam perdebatan yang hangat atas sebuah pertanyaan yang bisa
diselesaikan bertahun-tahun yang lalu oleh orang awam seperti kita.
Pertanyaannya adalah ini: apakah memang ada yang disebut sebagai bakat
bawaan? Jawaban yang pasti adalah ya. Kesuksesan adalah bakat ditambah
latihan. Masalahnya dengan pandangan ini adalah semakin dekat para
psikolog menelaah karier mereka yang berbakat maka sepertinya semakin
kecil peranan bakat bawaan dan semakin besar peranan latihan.
Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers membahas sebuah kaidah penting
yang ia beri nama kaidah 10.000 jam. Kaidah ini mengatakan bahwa
seseorang dapat menjadi ahli atau sukses dalam bidangnya jika ia
setidaknya menghabiskan 10.000 jam pada bidang tersebut. Pada kurun
10.000 jam tersebut mereka dapat menemukan kesalahan, kelemahan,
peluang, nilai-nilai yang kemudian menjadi modalnya untuk mencapai
kesuksesan. Berikut ini
adalah beberapa kisah para tokoh sukses menghabiskan 10.000 jam mereka
sebelum mencapai kesuksesan di bidangnya masing-masing.
The Beatles—John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo
Starr—datang ke Amerika Serikat pada bulan Februari di tahun 1964,
memulai invasi Inggris ke arena musik Amerika dan mengeluarkan lagu-lagu
hits yang mengubah
wajah musik pop dunia. Namun, sebelum mereka sampai pada hari tersebut,
mereka telah menghabiskan 10.000 jam mereka pada kawah candradimuka
yang berada di Hamburg, Jerman. Pete Best, pemain drum The Beatles pada
saat itu mengatakan bahwa pada saat itu mereka bermain nonstop sampai
setengah satu malam saat klub ditutup. Namun, permainan mereka kian
membaik sehingga penonton dapat bertahan hingga pukul dua pagi.
Bila dijumlahkan mereka telah bermain sebayak 270 malam dalam waktu
setengah tahun. Kemudian pada tahun 1964 mereka diperkirakan telah naik
panggung sebanyak 1200 kali. Faktanya adalah mayoritas band pada hari
ini tidak pernah melakukan pertunjukkan sebanyak 1200 kali dalam
kariernya. Kawah candradimuka yang bernama Hamburg adalah satu hal yang
membedakan The Beatles dari band lainnya.
Cerita
berikutnya adalah tentang 10.000 jam yang dihabiskan Bill Gates sebelum
menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Ayah Gates adalah seorang
pengacara kaya di Seattle sehingga ia mampu memindahkan anaknya pada
usia 13 tahun ke Lakeside, sebuah sekolah swasta yang mempunyai
komputer. Pada tahun 1968, komputer adalah sesuatu yang menakjubkan dan
seorang bocah 13 tahun telah membuat program komputer pada saat
professor-profesor ilmu komputer belum tentu memiliki akses yang sama.
Saat ia duduk di kursi SMA, ia mendapatkan akses komputer di
University of Washington secara cuma-cuma dari pukul tiga dini hari
hingga pukul enam pagi. Ribuan jam yang ia habiskan di depan komputer baik di
Lakeside maupun University of Washington menjadi kawah candradimuka
baginya. Sehingga saat ia keluar dari Harvard University pada tahun
keduanya, ia bukanlah mahasiswa bodoh yang tidak mampu lulus. Namun, ia
adalah seorang yang telah berlatih nonstop selama tujuh tahun dan sudah
jauh melewati batas minimum berlatih selama sepuluh ribu jam lamanya.
Cerita ini sekaligus dapat menjadi jawaban atas apologi banyak orang
yang drop-out dari bangku kuliah dengan mengatakan Bill Gates
saja yang tidak lulus kuliah bisa menjadi orang terkaya di dunia.
Pertanyaannya kemudian adalah sudahkah mereka menghabiskan 10.000 jam
latihan pada bidang yang ia tekuni seperti halnya Bill Gates.
Dari berbagai cerita di atas, kita dapat mengambil hikmah tentang
pentingnya kerja keras dan kesungguhan dalam mencapai kesuksesan. Mereka
yang telah mencapai kesuksesan mereka masing-masing telah menghabiskan
ribuan jam untuk berlatih dan mengembangkan kemampuan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar